Esai

Dinding

SW60Plus.com, 08 Oktober 2026, 07:42 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 8x dilihat

Roger Bannister – mahasiswa University of Oxford -- tidak menunggu sampai semua orang percaya bahwa satu mil bisa ditempuh dalam waktu kurang dari empat menit. Pada 6 Mei 1954, di lintasan Iffley Road, Oxford, ia mencoba membuktikannya. Catatan waktunya: tiga menit, 59,4 detik. Selisihnya kecil, tetapi pertanyaan tentang batas kemampuan manusia berubah.


Sebelum hari itu, empat menit merupakan sasaran yang belum berhasil dicapai. Angka tersebut menjadi dinding kokoh karena setiap percobaan belum menembusnya. Namun, belum ada yang berhasil bukan berarti tidak mungkin berhasil. Perbedaan sederhana ini sering hilang ketika kegagalan sudah terlalu akrab.


Bannister tidak menghadapinya hanya dengan membayangkan kemenangan. Ia berlatih dan mendapat bantuan Chris Brasher serta Chris Chataway – dua orang sahabatnya -- untuk mengatur kecepatan larinya. Rekor itu dicatat atas namanya, tetapi usaha di baliknya melibatkan orang lain. Bahkan pencapaian yang sangat pribadi membutuhkan dukungan.


Di sinilah kisahnya lebih menarik daripada nasihat agar kita berpikir positif. Keyakinan dapat mendorong seseorang mencoba, tetapi kemampuan tetap harus dibangun. Mengatakan “saya bisa” sambil melewatkan latihan mungkin membuat pagi terasa menyenangkan. Stopwatch, sayangnya, tidak mudah terkesan oleh kalimat motivasi.


Kita mengenal dinding serupa dalam kehidupan sehari-hari. “Saya tidak pandai bicara.” “Pelanggan itu tidak mungkin membeli.” “Tim kami memang tidak bisa berubah.” Awalnya mungkin kesimpulan dari beberapa pengalaman. Setelah diulang bertahun-tahun, kesimpulan itu terdengar seperti fakta tentang siapa kita.


Psikolog Albert Bandura menyebut keyakinan terhadap kemampuan menjalankan tugas sebagai efikasi diri. Keyakinan ini dapat tumbuh melalui pengalaman berhasil dan melihat orang lain berhasil. Dalam penelitian bersama koleganya, pengalaman menguasai tugas menghasilkan keyakinan yang lebih kuat daripada hanya menyaksikan contoh. Ada perbedaan antara terinspirasi dan memiliki bukti bahwa kita mampu.


Paradoksnya, kita sering menunggu percaya diri sebelum bertindak, padahal tindakan yang terarah dapat membantu membangun kepercayaan diri. Ini bukan ajakan nekat. Percobaan perlu cukup menantang untuk memberi pelajaran, tetapi cukup terkendali agar kesalahan dapat diperbaiki.

Jangan menyebutnya sebagai batas kemampuan jika Anda belum pernah sungguh-sungguh mencoba menguji keyakinan.

Bayangkan seorang supervisor baru yang selalu menyerahkan presentasi kepada rekannya. Ia pernah gugup, kehilangan urutan, lalu menyimpulkan bahwa berbicara di depan orang bukan bakatnya. Setiap kali menghindar, ia merasa lega. Tetapi kesempatan untuk mengetahui apakah kemampuannya bisa membaik juga ikut hilang.


Suatu hari, ia memilih menjelaskan satu tabel selama tiga menit. Ia menyiapkan tiga kalimat utama, berlatih dengan seorang rekan, lalu meminta masukan tentang bagian yang membingungkan. Bayangkan hasilnya tidak sempurna: suaranya masih bergetar, tetapi penjelasannya selesai. Untuk pertama kalinya, ia mempunyai pengalaman yang tidak cocok dengan keyakinan lamanya.


Langkah berikutnya bukan mengaku sudah menjadi pembicara hebat. Ia mencoba lagi, memperbaiki urutan, dan menambah bagian yang dijelaskan. Dinding itu mulai retak melalui bukti yang berulang. Keyakinan “saya tidak bisa” perlahan menjadi “saya belum lancar, tetapi tahu apa yang perlu dilatih”.
Bagi seorang manajer, proses seperti ini membutuhkan kondisi kerja yang mendukung. Menuntut keberanian tanpa menyediakan waktu belajar hanya menambah tekanan. Berikan tugas bertahap, contoh yang relevan, dan umpan balik yang spesifik. Orang lebih terbantu oleh petunjuk perbaikan daripada pujian yang tidak menjelaskan apa pun.


Pisahkan pula hambatan nyata dari dugaan yang belum diperiksa. Kekurangan stok, waktu, kesehatan, atau biaya tidak selesai hanya dengan mengubah pikiran. Jika kendalanya nyata, perbaiki kondisinya. Jika kesimpulannya terlalu luas, rancang percobaan untuk mengujinya. Mengakui keterbatasan membuat usaha lebih tepat, bukan kurang berani.


Bannister memberi kita contoh hasil yang dapat diukur. Belakangan, ia dan John Landy –pesaingnya dari Australia -- sama-sama berlari di bawah empat menit dalam perlombaan yang sama. Landy pernah mencatatkan waktu 4 menit 2 detik untuk jarak satu mil sebanyak tiga kali. 


"Dua detik itu memang tidak banyak, tetapi saat Anda berada di lintasan, jarak lima belas yard itu terasa begitu padat dan tak tertembus, bagaikan dinding semen," katanya. Tapi, sebagai mahasiswa kedokteran sekaligus ahli fisiologi, Bannister percaya anggapan itu keliru.


Namun, keberhasilan mereka tidak membuktikan bahwa setiap orang mampu mencatat waktu serupa. Pelajarannya adalah memeriksa batas melalui persiapan dan percobaan, bukan menganggap semua batas sekadar pikiran.


Untuk diri sendiri, pilih satu keyakinan yang paling sering menghentikan tindakan. Tanyakan pengalaman apa yang mendasarinya dan bukti apa yang mungkin mengubahnya. Mulailah dengan percobaan kecil, catat hasil, lalu tentukan perbaikan berikutnya. Kita tidak harus merasa yakin sepenuhnya untuk belajar sesuatu yang baru.


Mungkin dinding itu memang tidak langsung roboh. Tetapi setelah kita mengujinya, kita dapat membedakan kendala yang perlu ditangani dari ketakutan yang selama ini dipercaya. Besok, satu percobaan dapat memberi alasan untuk menilai ulang. Yang paling membatasi kadang bukan kegagalan terakhir, melainkan keputusan untuk tidak pernah mencoba lagi.

Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

DAFTAR PUSTAKA
McKenna, P. (2004). Change your life in seven days: The world's leading hypnotist shows you how. Bantam Press/Harmony Books.
Bannister, R. (2011). The first four minutes. The History Press.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000