Esai

Lepaskan

SW60Plus.com, 03 Oktober 2026, 07:31 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 8x dilihat

ADA satu kalimat yang terdengar sangat bertanggung jawab di kantor, tetapi diam-diam bisa membuat tim tidak pernah tumbuh. 

 “Sudahlah, saya saja.” 

Biasanya kalimat itu keluar ketika waktu mulai sempit. Beberapa orang di tim sudah mencoba menyelesaikan tugas, tetapi hasilnya masih belum seperti yang diharapkan. Kita menjelaskan sekali. Masih salah. Menjelaskan lagi. Kita harus membenahi hal ini. Saya lihat jam. Saya ambil napas. Lalu saya mulai. 

Dan memang lebih cepat. 

Paul Falcone dalam _The New Managers_ membahas dilema sederhana ini: mengajari orang lain mengerjakan sesuatu pada awalnya sering membutuhkan waktu lebih lama daripada mengerjakannya sendiri. 

Kita bisa menyelesaikan laporan dalam satu jam. Anak buah membutuhkan tiga jam. Pilihan yang masuk akal adalah ambil alih. 

Masalah selesai hari itu. 

Besok ia datang membawa pertanyaan yang sama. Kita mengambil alih lagi. Lama-lama kita menjadi orang paling sibuk di tim, lalu mengeluh, “Kenapa mereka tidak bisa mandiri?” 

Padahal setiap kali mereka mencoba mandiri, kita berkata, “Sini, saya saja.” 

Itulah paradoks delegasi: kita menghemat waktu hari ini dengan meminjam waktu dari masa depan. 

Adam Del Deo pernah menghadapi versi yang jauh lebih mahal dari persoalan ini di Netflix. 

Pada 2017, Del Deo sedang mempertimbangkan pembelian Icarus, sebuah dokumenter yang diputar di Sundance. Ada perang tawar-menawar. Harganya terus naik sampai jutaan dolar. Del Deo melakukan sesuatu yang sangat wajar: ia menghubungi atasannya, Ted Sarandos, yang ketika itu memimpin urusan konten Netflix. 

Pemimpin hebat bukan paling dibutuhkan, tetapi membuat orang lain semakin mampu.

Bayangkan jika kita menjadi Sarandos. Anak buah datang membawa keputusan hampir US$5 juta. Mudah sekali bilang, “Oke, saya yang akan memutuskan.” 

Tetapi Sarandos tidak melakukannya. 

Ia memberi Del Deo konteks. “Seberapa yakin kamu sama film ini?Kalau memang yakin film tersebut bisa menjadi sesuatu yang istimewa, harga yang terlihat mahal sekarang mungkin masuk akal.” 

Lalu keputusan dikembalikan kepada Del Deo. 

Netflix akhirnya membeli Icarus sekitar US$4,6 juta. Satu tahun setelah itu, film tersebut mendapat penghargaan Academy Award untuk kategori Dokumenter Terbaik. 

Tentu cerita itu terdengar indah karena kita sudah tahu akhirnya. Kalau _ Icarus_ gagal, mungkin kisahnya tidak akan sesering ini muncul dalam buku manajemen. 

Tetapi justru di situlah poinnya. 

Sarandos mengambil risiko bukan hanya pada film. Ia mengambil risiko pada orang yang membuat keputusan. 

Pendekatan itu sejalan dengan budaya yang dibangun Reed Hastings di Netflix: _context, not control_. Pemimpin memberi tahu arah, tujuan, risiko, dan batasan, tetapi pemimpin tidak selalu perlu mengambil semua keputusan penting sendiri. 

Ada hal aneh di sini. Semakin sering bos memberi jawaban, tim malah jarang belajar untuk mencari jawaban sendiri. 

Itu tidak berarti semua keputusan dilepas begitu saja. Delegasi bukan berkata, “Terserah kamu,” lalu menghilang ketika masalah datang. Falcone berkata, tentukan tujuan dari hari pertama. Beri tim wewenang yang pas. Pastikan tim punya kemampuan untuk tugas itu. Setelah semua jelas, biarkan tim bekerja dan belajar sendiri. 

Bagian terakhir biasanya yang paling sulit. 

Sebab kadang masalahnya bukan mereka belum siap. Kita yang belum siap melepaskan. 

Kadang ada pekerjaan yang membuat orang lain melihat kita sebagai orang hebat. Kadang ada pelanggan yang sering datang ke kita. Beberapa presentasi kadang membuat kita merasa dihargai. Kemampuan itulah yang mungkin dahulu membawa kita ke kursi manajer. 

Sekarang kita harus mengajari orang lain melakukan hal yang sama. 

Lalu suatu hari mereka bisa. 

Mungkin bahkan lebih baik. 

Di situ ego mulai berbisik: kalau mereka bisa tanpa saya, saya ini untuk apa? 

Jawabannya mungkin justru ada di sana. 

Ketika anggota tim datang membawa masalah, sesekali tahan jawaban kita. Saya ingin tahu, menurut kamu, apa yang sebaiknya dilakukan? Dengar dulu alasan dari dia. Tanya apa saja risiko yang mungkin ada. Kalau masih dalam batas yang bisa ditanggung, biarkan ia mencoba. 

Awalnya memang lebih lama. 

Satu jam menjadi tiga. Tetapi beberapa bulan kemudian, tiga jam mungkin menjadi satu. Orang tidak lagi datang hanya membawa masalah; mereka mulai membawa pilihan dan keputusan. 

Hastings sendiri akhirnya menjalani prinsip yang sama pada skala terbesar. Setelah bertahun-tahun membangun Netflix, ia semakin menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada Sarandos dan Greg Peters. Pada 2023, keduanya menjadi co-CEO dan Hastings beralih menjadi Executive Chairman. 

Ada pola menarik di sana. 

Del Deo dipercaya Sarandos. Lalu Hastings sendiri belajar melepaskan perusahaan yang ikut ia bangun. 

Sarandos dipercaya Hastings. Mungkin itulah delegasi yang sesungguhnya. Bukan memindahkan pekerjaan, tetapi memindahkan kemampuan sampai orang lain tidak lagi membutuhkan kita untuk melakukan sesuatu yang dulu hanya kita bisa lakukan. 

 Jadi, lain kali kalimat “Sudahlah, saya saja” sudah sampai di ujung lidah, tahan sebentar. 

 Tanyakan satu hal: saya sedang menyelesaikan pekerjaan, atau sedang membangun orang? 

 Sebab mungkin tanda terbaik bahwa kita berhasil sebagai pemimpin justru datang pada hari ketika tim melihat kita, tersenyum, lalu berkata: 

“Sudahlah, Pak. Biar kami saja.” 


Edhy Aruman

JAM 6 TENG - enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.


DAFTAR PUSTAKA

Falcone, P. (2022). _The new managers: Mastering the big 3 principles of effective management—Leadership, communication, and team building._ HarperCollins Leadership.  

Hastings, R., & Meyer, E. (2020). _No rules rules: Netflix and the culture of reinvention._ Penguin Press. 

Hastings, R. (2023, January 19). Ted Sarandos and Greg Peters are now co-CEOs of Netflix, with Reed Hastings as executive chairman. Netflix.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000