Esai

“mBeguguk Nguto Waton”: Antara Kebenaran dan Pembenaran

SW60Plus.com, 14 Juni 2026, 21:56 WIB
Kabul Budiono
Kabul Budiono
· 10x dilihat

DALAM versi wayang Jawa ada lakon berjudul Kresna Duta. Sri Kresna datang ke Hastinapura sebagai duta perdamaian dari pihak Amarta atau keluarga Pandawa. Ia datang untuk mencari solusi agar perang Bharatayuda tidak terjadi. Sebelumnya Resi Bisma juga mengingatkan pentingnya keadilan. Ia mengajak Duryudana berpikir jernih demi masa depan negeri yaitu mengembalikan Indrapasta kepada Pandawa. Namun semua nasihat itu kandas.

Duryudana menolak mendengarkan baik permintaan Kresna maupun nasihat para sesepuh. Sikap Duryudana itu sekilas tampak sebagai keteguhan.   Dalam khasanah bahasa Jawa dikenal sebuah ungkapan yang terdengar sederhana tetapi sarat makna yaitu mbeguguk nguto waton.

Ungkapan ini biasanya ditujukan kepada seseorang yang terus membela pendapatnya tanpa peduli benar atau salah. Seseorang itu menggunakan diksi Pokoknya. Pokoknya tidak mau kalah. Pokoknya harus menang. Pokoknya dirinya harus dianggap  benar.  
Mbeguguk ngutowaton menjangkiti manusia yang tidak sedang mencari kebenaran, tetapi hanya sedang mencari pembenaran. Dan ketika pembenaran menjadi tujuan utama, akal sehat perlahan-lahan tersingkir oleh ego. Maka sebagaimana Duryudana, nasihat dianggap serangan. Kritik dianggap permusuhan. Dan, perbedaan pendapat dianggap ancaman.

Agar tidak terjebak pada otak-atik gatuk, yaitu mencari cari kesamaan dan pembenaran,  maka baik juga jika kita acu wacananya dengan menelaah makna kebahasaannya. 
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keras kepala diartikan sebagai tidak mau menurut nasihat orang atau tidak mau mengubah pendapatnya. Definisi ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat tajam. Merujuk pada pemahaman KBBI, maka seseorang dapat disebut keras kepala karena menolak mempertimbangkan kemungkinan bahwa dirinya bisa saja keliru.
Dalam bahasa Inggris, istilah yang digunakan adalah stubborn. Oxford Learner's Dictionariesmendefinisikannya sebagai seseorang yang bertekad untuk tidak mengubah pendapat atau sikapnya. Jika demikian maka keras kepala beranjak dari dari menolak membuka diri terhadap kemungkinan adanya kebenaran yang lebih kuat.
Karenanya dalam realita kehidupan, boleh jadi banyak orang mengira dirinya sedang mempertahankan prinsip, padahal sesungguhnya ia hanya sedang mempertahankan gengsi. Banyak orang merasa dirinya sedang teguh pendirian, padahal yang dipeliharanya hanyalah ego. Padahal teguh pendirian berbeda dengan keras kepala.
Orang yang teguh pendirian memegang nilai dan prinsip yang diyakininya benar, tetapi tetap bersedia mendengar, mempertimbangkan, dan belajar. Ia tidak mudah goyah oleh tekanan, namun juga tidak takut mengoreksi diri apabila menemukan kebenaran yang lebih kuat.
Ketika pemerintah memutuskan untuk menjalankan program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), keteguhan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan memang diperlukan. Sebuah program besar tidak mungkin berjalan apabila setiap kritik langsung direspons dengan penghentian kebijakan.
Namun pada saat yang sama, keteguhan tidak boleh berubah menjadi ketertutupan.
Pemerintah perlu tetap membuka ruang bagi evaluasi, koreksi, dan penyempurnaan berdasarkan fakta-fakta yang muncul di lapangan. Sebab tujuan yang baik tidak otomatis menjamin pelaksanaan yang sempurna.
Dalam kehidupan berbangsa, rakyat membutuhkan pemerintah yang memiliki keberanian untuk konsisten pada cita-citanya, tetapi juga memiliki kerendahan hati untuk mendengar. Sebab sering kali kekuatan sebuah kebijakan tidak hanya ditentukan oleh niat baik yang melahirkannya, melainkan juga oleh kesediaan untuk terus belajar dari pengalaman pelaksanaannya.  
Tentu perlu disadaru bahwa bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang seluruh warganya selalu sepakat. Bangsa yang sehat adalah bangsa yang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan akal sehat dan rasa hormat. Pun dalam Islam dinyatakan bahwa perbedaan adalah sunatullah. Dan untuk itu diperlukan pihak bijaksana yang menjadi bijaksana menjembatani perbedaan atau berada di pertengahan.
Wayang tidak pernah hanya bercerita tentang orang lain. Wayang sesungguhnya sedang bercerita tentang diri kita sendiri. Perang Bratayuda yang terjadi dan menyebabkan kerusakan dan kehancuran, bermula dari sikap keras kepala Duryudana yang merasa sedang mempertahankan prinsip kebenaran, padahal ia sedang menguatkan pembenaran.  
Dan seperti Duryudana, jangan jangan sebagai warga bangsa dan juga sebagai pemimpin bangsa, kita semua sesekali diuji dalam kondisi kejiwaan dan tak lagi dapat membedakan antara menegakkan kebenaran atau melakukan pembenaran. Pilihannya akan sangat menentukan. Sebab dalam kisah pewayangan, sikap Duryudana dapat menyebabkan perang Bharatayuda yang menghancurkan. Pun Duryudana tak dapat lagi mempertahankan kekuasaan.
Thok thok thok.... tancep kayon. *

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000