Esai

Jakarta Kota Global, Buat (Si)apa?

SW60Plus.com, 15 Juni 2026, 15:06 WIB
Renville Almatsier
Renville Almatsier
· 22x dilihat

SEMENTARA MK masih menangguhkan status IKN sebaga ibukota negara karena menunggu keputusan politik Presiden,  status Jakarta menjadi menggantung. Tanggal 22 Juni kota kita ini merayakan HUT yang ke-499. Peduli amat dengan statusnya tetapi di Jakarta  lebih 11 juta manusia hidup. Lebih 10 tahun  lalu,  menurut Bank Dunia, Jakarta telah memenuhi derajat sebagai kota di atas “metropolitan” (Kompas, 9/3/23). Kini 20 tahun kemudian orang masih bertanya dalam hati benarkah kita sudah memenuhi kriteria itu?
Saat ini Jakarta berada di peringkat ke-67 dalam Global City Index.  Lima besar menurut index itu New York, London, Paris, Tokyo dan Beijing. Tetangga dekat kita, Singapura berada di peringkat ke-9. Definisi kota global, menurut  laporan itu, adalah wilayah metropolitan utama yang secara unik bersifat internasional dalam konektivitas dan karakternya. Apa kriteria disebut kota global?. Macam-macam,  mulai dari layanan keuangan internasional, kantor pusat institusi, kantor pusat korporasi multinasional, pusat manufaktur utama, pengaruh dalam pengambilan keputusan, pusat ide inovasi bisnis dan budaya, pusat digital media dan komunikasi, dominasi wilayah nasional dan signifikasi internasional, institusi pendidikan berkualitas tinggi, infrastruktur multifungsi hingga tingginya keberagaman bahasa, budaya dan agama (Heru Budi Hartono, “Jakarta Menuju Kota Global”, Kompas, 9/6/23).
Jelas untuk mencapai kota global tak sekadar membalikkan telapak tangan. Investasi jadi penting. Dibutuhkan dana besar untuk berbagai proyek strategis  agar Jakarta  bisa melanjutkan transformasi menuju target itu. Upaya memang sudah dilakukan ke arah itu. Jakarta giat meningkatkan aksesibilitas, liveability, perbaikan lingkungan dan budaya, meningkatkan pembangunan teknologi dan inovasi serta meningkatkan toleransi dan internasionalisme. Citra aman tenteram modern, inklusif dan dinamis di dalam negeri akan menarik minat banyak orang.
Apa daya,  ada peneliti luar menyebut Indonesia  termasuk dalam 12 negara paling kotor di dunia pada 2025 versi Ultimate Kilimanjaro (Kompas, 18/10/25)   Indikator utamanya adalah kualitas udara, air, pengelolaan sampah dan sanitasi. Kalau mau jujur, semua itu masih jadi persoalan di Jakarta yang bisa dianggap representasi Indonesia.. Aktivitas warga Jakarta menghasilkan timbunan sampah harian hingga 8.607 ton per hari berdasarkan data sistem informasi sampah nasional Kementerian Lingkungan Hidup (Kompas, 28/10/25).
Sampah plastik dari kanal-kanal di Jakarta mengalir ke perairan laut Jawa. Di muara Kali Angke sampah sudah berhasil membangun pulau-pulau baru. BRIN dalam salah satu penelitiannya menemukan kandungan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta.

Dengan kacatamata lain, sebuah lembaga, Survey Global Residence Index 2026 menempatkan Jakarta sebagai kota teraman kedua di kawasan Asean (Kompas, 8/4/26). Tapi beberapa hari kemudian (13/4/26), koran yang sama memberitakan bahwa “Jakarta Belum Sepenuhnya Aman”.  Kita warga yang hidup di Jakarta makin bingung dibuatnya.
Dari sisi transportasi kini banyak sekali kemajuan Jakarta dengan hadirnya berbagai moda angkutan umum  baru. Meskipun, menurut data Kompas, 79 persen dari penglaju (komuter) masih menggunakan kendaraan pribadi.  Bagi sebagian pekerja, ada yang harus menghabiskan 4-5 jam hanya untuk pergi-pulang setiap hari. Ongkosnya pun tidak kecil. Transportasi yang tidak efisien jelas menguras kantong warga dan menimbulkan biaya sosial besar. Belum lagi kita bahas soal kemacetan yang seolah tiada habisnya.  Artinya, walaupun ada upaya menghadirkan MRT Jakarta,  LRT Jakarta, LRT Jabodetabek, Transjakarta dan Jaklingko, angka pengguna transportasi umum belum bergerak signifikan.
Dari semua hal itu, kalau mau jujur kita harus mengakui bahwa hidup di Jakarta belum memberi kenyamanan bagi warganya. Lalu timbulah pertanyaan. Buat apa status sebagai kota global, sementara begal merajalela, penyiraman air keras terulang lagi,  penerobos melawan arus dibiarkan saja, orang membuang sampah di fasilitas umum. Tawuran, tindak kriminalitas, konflik sosial, potensi radikalisme  hingga ancaman bencana seperti banjir, kebakaran dan cuaca ekstrem masih mengintai ?
Agaknya predikat kota global semua itu lebih terkait pada pencitraan, sekadar  mengejar citra kota berkelas dunia. Biar tampak sekelas dengan New York, London,  Beijing dan lain-lain itu.  Tapi bagi warganya, buat apa kriteria itu semua?
Akhirnya, lebih baik kita memperbaiki dahulu  semua kekurangan  itu bersama-sama. Tidak cukup pemerintah atau aparat saja yang lintang pukang tanpa kesadaran warganya. Artinya, pemerintah dan warga harus saling mendukung.  Kalau sudah bagus, semua merasa nyaman…predikat itu datang menyus

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000