Jebakan Kebijakan Harga BBM Murah
Serangan sepihak Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sudah
berlangsung lebih satu bulan. Klaim Presiden Donald Trump bahwa serangan
terhadap Iran akan berlangsung cepat dan singkat tidak terbukti. Iran
menunjukkan perlawanan yang membuat perang akan berlarut.
Perang Iran telah membuat ketidakpastian global semakin meningkat.
Terhentinya pasokan 20 persen minyak dunia akibat perang di Iran,
membuat harga minyak semakin tidak terkendali dan kini sudah menembus
100 dollar AS per barrel.
Semua masyarakat dunia terkena
imbasnya. Bahkan bangsa Amerika sendiri harus membayar harga bahan bakar
minyak yang lebih mahal. Itulah yang membuat bangsa Amerika protes
karena semua bahan kebutuhan pokok bergerak naik. Inflasi menjadi
ancaman yang nyata.
Inflasi kini menjadi ancaman dunia.
Karena dampak dari Perang Iran bukan hanya terganggunya produksi dan
perdagangan dunia, tetapi juga akan berpengaruh terhadap produksi pupuk.
Kalau itu sampai terjadi maka produksi pangan dunia akan turun sehingga
potensi kelaparan akan meningkat.
International Energy
Agency mengingatkan pemimpin dunia untuk tidak meremehkan krisis energi
yang akan terjadi di depan. Sebab, kalau pun Perang Iran berhenti besok,
dibutuhkan waktu minimal enam bulan untuk memperbaiki fasilitas
pengolahan minyak dan gas yang ada di negara-negara Timur Tengah.
Banyak negara sudah melakukan langkah antisipasi terhadap situasi
yang terburuk. Mulai dari pengurangan waktu kerja hingga pembatasan
penerbangan. Biaya perjalanan akan semakin mahal.
Dalam
kondisi seperti sekarang ini maka tidak ada pilihan yang harus kita
lakukan adalah penghematan. Ketika potensi pengeluaran dipastikan akan
melambung tinggi, sementara potensi pendapatan belum pasti, maka kita
harus mau mengurangi pengeluaran.
Kita pernah melakukan itu
saat awal Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Hanya saja ketika itu
faktor penyebabnya adalah terlalu borosnya pengeluaran yang tidak
perlu, kali ini penyebabnya faktor dari luar yaitu Perang Iran. Saat itu
kita mampu melakukan penghematan sebesar Rp 300 triliun.
Penjelasan yang disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga
Hartarto di Sidang Kabinet sangatlah tepat. Dengan kondisi seperti
sekarang, di mana harga minyak dunia meningkat begitu tinggi, tidaklah
mungkin defisit anggaran berada di bawah tiga persen. Kalau kita tidak
mau melanggar UU APBN, maka pilihan yang bisa dilakukan adalah melakukan
penghematan dan menurunkan target angka pertumbuhan.
Situasi krisis
Pilihan yang disampaikan Menko Perekonomian sangat realistis
karena kita tidak tahu berapa lama Perang Iran akan berlangsung.
Pengalaman Perang Ukraina yang sudah empat tahun berlangsung, sampai
sekarang belum ada tanda-tanda akan berakhir.
Dalam
situasi krisis, kita harus fleksibel menyesuaikan keadaan. Sekarang ini,
kita tidak perlu ambisius untuk menjalankan semua program yang ingin
dilakukan dan mendorong pertumbuhan ekonomi seperti yang kita inginkan.
Sikap realistis dibutuhkan karena kita harus memikirkan jangka
panjang. Membangun negara bukanlah seperti lari sprint, tetapi lari
maraton. Yang dibutuhkan adalah konsistensi dalam menjalankan arah
pembangunan jangka panjang.
Semua negara di dunia berupaya
agar ekonomi mereka bisa tetap berputar. Walaupun pertumbuhan tidak
bisa tinggi, yang diupayakan tetap bisa positif. Artinya masih ada
investasi dan masyarakat tetap bisa memiliki pekerjaan.
China secara berani mematok pertumbuhan ekonomi mereka di kısaran empat
persen. Kita tidak perlu malu untuk mengoreksi angka pertumbuhan karena
memang situasi global memaksa kita untuk itu. Kita akan dianggap tidak
realistis kalau memaksakan diri mengejar target pertumbuhan yang tinggi.
Apalagi jika diikuti dengan keinginan untuk melebarkan defisit
anggaran. Di tengah penilaian kurang baik dari lembaga rating dunia
tentang pengelolaan utang kita, maka sebuah bunuh diri kalau kita justru
melebarkan lagi defisit amggaran.
Banyak pihak akan
menilai Indonesia tidaklah realistis kalau defisit anggaran diperlebar.
Akibatnya, para investor akan semakin menjauhi Indonesia karena potensi
ketidakmampuan kita dalam mengelola utang. Kalau itu sampai terjadi maka
kita bisa kehilangan predikat “investment grade” yang menjadi acuan
para investor.
Kita tidak boleh main-main dengan masalah
kredibilitas. Sebab, kredibilitas ditentukan oleh pihak lain atas
tindakan yang kita lakukan. Tidak bisa kita memaksakan orang untuk
percaya kepada kita, kalau kita tidak menunjukkan apa yang kita ucapkan
sesuai dengan apa yang kita kerjakan.
Bukan waktunya
Sekarang bukan waktunya untuk bersikap populis. Yang jauh lebih
penting adalah kita bersikap realistis. Masyarakat pun harus diedukasi
untuk bersikap realistis agar mereka bertindak rasional.
Semua negara di dunia akhirnya memilih jalan itu. Malaysia yang sama
seperti Indonesia biasanya meninabobokan rakyatnya dengan kebijakan
harga bahan bakar minyak murah, meninggalkan pendekatan itu.
Pemerintah Malaysia hanya mempertahankan harga BBM murah untuk yang
bersubsidi. Tetapi untuk BBM yang kualitasnya tinggi diterapkan harga
pasar. Harga BBM dengan RON di atas 95 sekarang mencapai 6,5 ringgit
atau sekitar Rp 25.000 per liter.
Indonesia sebelumnya
menerapkan kebijakan serupa seperti itu. Hanya harga Pertalite yang
disubsidi pemerintah, sementara yang lain diserahkan kepada mekanisme
pasar.
Sekarang karena memilih jalan populis, BBM
non-subsidi pun dipertahankan harganya. Harga Pertamax masih tetap Rp
12.350 per liter. Akibatnya, masyarakat tidak diedukasi untuk mulai
menghemat BBM. Untuk pergi ke mini market yang jaraknya dekat pun
menggunakan motor. Padahal bisa dilakukan dengan jalan kaki karena
lokasinya tidak jauh dari rumah mereka.
Pernyataan bahwa
kenaikan harga minyak dunia akan diserap oleh APBN sangatlah
menyesatkan. Akhirnya APBN akan habis untuk dibakar bukan untuk kegiatan
yang produktif.
Yang tidak pernah disampaikan kepada
masyarakat, APBN yang jumlahnya terbatas itu seharusnya menjadi the last
resort untuk menghadapi gejolak ekonomi dunia. Masyarakat harus ikut
bersama pemerintah menghadapi akibat dari Perang Iran ini dengan
menanggung beban kenaikan harga minyak dunia. Kalau masyarakat sudah
tidak mampu lagi menanggung beban, baru APBN dipergunakan untuk menopang
kehidupan masyarakat.
Pemerintah tidak perlu takut dianggap
tidak berpihak kepada masyarakat karena harga BBM bersubsidi tetap
dipertahankan. Yang diminta ditanggung oleh masyarakat adalah BBM
non-subsidi yang penggunanya adalah kelompok masyarakat yang memiliki
kemampuan untuk membeli harga BBM non-subsidi dengan harga pasar.
Kalau pun mereka terpengaruh, kelompok masyarakat ini bisa
mengurangi jumlah perjalanan dan jumlah penggunaan kendaraan. Seperti
zaman pandemi covid-19, apa salahnya kita kembali bepergian dengan
menggunakan sepeda untuk bepergian di dalam kota seperti biasa dilakukan
pejabat-pejabat di Belanda.
Dengan jumlah konsumsi BBM yang
berkurang justru baik untuk menghemat devisa. Penghematan itu akan
memberi peluang kepada pemerintah untuk tetap bisa memberi bantuan
langsung tunai kepada kelompok masyarakat yang paling rentan.
Pemerintah Singapura saja sekarang menambah program bantuan sosial
kepada rakyatnya. Semua bisa dilakukan karena APBN dipergunakan secara
bertanggung jawab, tidak dihambur-hamburkan untuk kebijakan yang tidak
perlu.
Sekarang kita dihadapkan jebakan kebijakan harga BBM
murah. Karena terlanjur mengatakan kita negara kaya dan tidak ada
masalah dengan pasokan BBM, masyarakat pun terninabobokan. Perilaku
mereka tidak berubah seakan-akan dunia tidak sedang menghadapi krisis
besar. Padahal semua negara di dunia sudah menyatakan dan meminta
rakyatnya berhati-hati menghadapi krisis energi.
Tiga langkah
Tidak banyak pilihan yang kita miliki dalam situasi krisis
seperti sekarang ini. Sebab, kita sudah menjadi net importer minyak.
Setiap hari setidaknya dibutuhkan sekitar 1 juta barrel untuk keperluan
menggerakkan ekonomi nasional. Kalau harga minyak mencapai 100 dollar
AS per barrel artinya kita harus mengeluarkan devisa 100 juta dollar AS
per hari. Tinggal kita kalikan berapa lama harga itu akan bertahan.
Kalau satu tahun saja berarti butuh 36,5 miliar dollar AS untuk
kebutuhan energi dalam negeri.
Jangan salah, kalau pun
uangnya ada, barangnya belum tentu ada. Elpiji yang menjadi kebutuhan
Ibu rumah tangga dan juga pedagang kaki lima serta restoran, harus kita
impor dari Qatar. Sementara Selat Hormuz masih tertutup, maka kita
bisa-bisa tidak bisa mendatangkan elpiji untuk kebutuhan masyarakat.
Beruntung Presiden Prabowo sudah mengikat perjanjian dengan Amerika
Serikat sehingga kebutuhan BBM termasuk elpiji bisa didapat dari AS.
Namun biaya pengapalan akan lebih mahal dan lebih lama karena
membutuhkan 43 hari pelayaran.
Bayangkan apa yang akan
terjadi kalau elpiji tidak tersedia. Ibu-Ibu rumah tangga tidak bisa
memasak makanan. Pedagang kaki lima tidak bisa berjualan. Itu artinya,
orang akan kelaparan dan bahkan pedagang kaki lima tidak mempunyai
pendapatan.
Situasi seperti ini kalau tidak dikendalikan
dengan baik akan menimbulkan kemarahan massal. Krisis energi dan krisis
ekonomi akan memicu krisis sosial. Kalau kita tidak mampu mengendalikan
dengan baik, maka akan berubah menjadi krisis politik seperti kita alami
pada 1998.
Untuk menghindari menumpuknya tiga krisis
sekaligus, maka ada tiga langkah yang perlu kita lakukan. Pertama adalah
melakukan penghematan terhadap program yang populis dan membutuhkan
anggaran yang besar.
Langkah kedua yang harus dilakukan
adalah mendorong ekspor agar pendapatan negara bisa meningkat. Ekspor
sumber daya alam seperti batu bara, logam, dan mineral bisa dilonggarkan
dulu karena harganya sedang tinggi. Hasil devisa ekspor ini penting
agar Bank Indonesia tidak Haru’s membeli terus dari pasar spot untuk
memenuhi kebutuhan impor minyak.
Ketiga, adalah memperkuat
sinergi antara pemerintah dan dunia usaha. Kita harus meminta dunia
usaha untuk terus menjalankan bisnisnya agar tidak terjadi pemutusan
hubungan kerja. Bahkan pemerintah bisa memberikan bantuan, yang penting
masyarakat tetap bisa melakukan kegiatan produktif.
Selalu
kita ingatkan bahwa manusia itu adalah homo faber. Ia akan merasa
memiliki harga diri kalau mempunyai pekerjaan. Kalau manusia tidak
bekerja, maka ia mudah untuk frustasi dan ketika krisis ekonomi ada di
depan matanya, maka mereka akan mudah untuk marah.
Langkah
penegakan hukum terhadap para pengusaha bahkan harus dihentikan
sementara. Dalam kondisi seperti ini kita membutuhkan dunia usaha yang
bekerja.
Sekarang bukan waktunya hanya sekadar
mengumpulkan aset. Yang lebih dibutuhkan adalah aset yang bekerja.
Karena bagi rakyat lebih penting aset yang memberikan hasil yang lebih
besar, daripada hanya memiliki aset yang tidak bisa menyejahterakan
mereka.*