Novel dan Sinetron Online Itu Nir-gizi
DUA hari lalu Cak Hariono Santoso Dirut TVRI Pusat (2008 - 2010) menjapri saya. Ia mengajak ngopi. Maka ketemulah kami di salah satu "tempat nongkrong" di kawasan Surabaya Timur. Hadir pula Cak Imung Mulyanto yang dikontak Cak Hariono. Cak Imung ini mantan redaktur seni Surabaya Post dan mantan pemimpin redaksi Arek Televisi. Belum lama ini merilis sebuah novel, menyusul Cak Hariono yang sudah menulis 2 judul novel.
Dalam kesempatan itu, saya promosikan buku karya saya terbaru -- buku ke-19 -- yang seminggu lalu saya rilis di akun Facebook saya, judulnya : "DUNIA TERTAWA DAN MENDERITA TIKTOK PUNYA CERITA - Fakta dan Simulakra di antara 25 Cerita".
Buku ini, intinya sebagaimana saya tulis di kata pengantar : TikTok bermain di area abu-abu, di antara “fakta” dan “simulakra” — istilah dari Jean Baudrillard, visualisasi yang sudah lepas dari realitas aslinya. Banyak konten TikTok mendaku “real life”, “day in my life”, “jujur aja…”. Tetapi semua sudah melewati filter : musik, teks, dan penyuntingan 15 detik.
Semacam simulasi dari sesuatu yang dibikin supaya bergairah dan menarik. Realitasnya ada, namun sudah direkayasa sesuai kehendak algoritma. Singkatnya, TikTok tidak sepenuhnya bohong, tetapi juga tidak benar-benar jujur. Hasilnya adalah “realitas versi TikTok” — dunia yang terasa nyata. Padahal sudah disusun ulang buat menahan perhatian kita, setidaknya selama 30 detik.
Mungkin karena buku saya ini menyentuh platform digital, dunia online -- di mana selain TikTok, juga platform lain termasuk Facebook, maka terburailah diskusi seputar novel-novel online yang kemunculannya di Facebook sebagai wadah promosi, didominasi tren cerita seputar menantu versus mertua. Dan ini saya sebut sebagai novel hiburan. Novel-novel online tersebut tidak semuanya hanyut dibandang mainstream. Ada yang nyempal dengan tema lain, sekaligus masuk ke 'Hiburan' dengan 'H Besar'.
Oleh Cak Hariono "genre" novel ini disebut sebagai karya 'kitsch'. Novel nir-gizi. Tidak memberi nutrisi sehat pada jiwa. Lebih lanjut Cak Hariono menyampaikan dengan tegas, baik sinetron online maupun novel digital tidak memberi nutrisi psikologi.
Tapi toh para kreatornya dapat cuan yang luar biasa banyak. Dan itu bisa bikin iri para produser sinema Hollywood yang menghasilkan karya besar sekaligus bermutu.
"Saya jadi teringat lagunya The Beatles tahun 1966 berjudul 'Paperback Writer' yang liriknya menyindir para penulis novel murahan yang cuma ingin dapat cuan besar lewat karya klangenan itu," tuturnya, yang lantas menambahkan, "Dan saya pun jadi teringat kata ayah saya almarhum bahwa uang yang mulia itu adalah yang kita dapatkan sepadan dengan kontribusi kita pada kehidupan".
Karena kami bertiga penulis yang menghasilkan karya secara indie label, dibahas pula strategi menerbitkannya dan bagaimana memperluas jangkauan tiras. Juga tentang kreativitas terus-menerus dengan fokus pada nilai kualitas, diharapkan akan terjadi gesekan-gesekan, wacana literasi, demi memperbaiki karya yang mudah-mudahan menghasilkan personal branding.(*)
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar