SESUATU BANGET
Greg Bulanow baru menyadari ada sesuatu yang tidak beres di departemen pemadam kebakaran North Charleston yang dia pimpin. Dia bingung mengapa timnya mengalami burnout parah padahal mereka melakukan pekerjaan mulia.
Mereka berlari ke arah bahaya ketika orang lain berusaha menjauh, menyelamatkan nyawa, mengevakuasi korban kecelakaan, dan berdiri di garis depan saat krisis terjadi. Namun semangat kerja mereka menurun, hubungan antarrekan melemah, dan semakin banyak petugas yang merasa kosong serta ingin pergi.
“Bukankah pekerjaannya sudah cukup “mulia” untuk memberi makna?” pikir Greg.
Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu. Setelah ia mendengarkan cerita para petugasnya, Greg menemukan akar masalah yang jarang disadari: mereka tidak pernah tahu apa yang terjadi setelah tugas selesai.
Mereka kalau telah menyelamatkan orang dan dibawa pergi oleh ambulans, dan para pemadam kembali ke markas tanpa kabar lanjutan. Namun, mereka tidak mengetahui apakah pasien itu benar-benar selamat? Apakah upaya mereka berhasil?
Tanpa mereka sadari, “ketidaktahuan” itu membuat mereka “lelah.” Secara perlahan mengikis rasa berharga mereka.
Dari situlah Greg mulai melakukan perubahan kecil namun penting. Ia menciptakan sistem agar para petugas mendapat umpan balik tentang nasib korban yang mereka bantu. Ia juga membangun budaya saling mengakui kebaikan.
Bukan hanya prestasi besar, tetapi juga tindakan-tindakan kecil yang mencerminkan kepedulian dan profesionalisme. “Kerja bagus.” “Mereka semua selamat dan sudah pulang ke rumah.” “Terima kasih, kawan.” Ucapan-ucapan itu yang ditularkan Greg kepada Timnya Timnya juga mengucapkannya kepada sesama Tim.
Perlahan, suasana berubah. Para petugas kembali merasakan bahwa apa yang mereka lakukan benar-benar berarti bagi orang lain. Mereka tidak lagi sekadar “bekerja”, tetapi merasa dilihat, dihargai, dan dibutuhkan.
Di lokasi lain, Nancy adalah seorang ahli teori transisi. Dia mengalami krisis identitas saat pensiun dan pindah ke Florida. Kartu namanya yang dulu penuh gelar kini kosong, membuatnya merasa tak berarti.
Lalu dia melakukan "me-search" (riset pribadi) dengan mewawancarai pensiunan lain tentang bagaimana mereka bertahan. Dari situ dia menemukan bahwa orang yang bahagia adalah mereka yang tetap terlibat.
Karena itu, Nancy akhirnya membuat kartu nama baru berwarna merah bertuliskan peran barunya. Dia mendirikan grup "Aging Rebels" untuk mendiskusikan tantangan penuaan, membuktikan bahwa keberartian bisa dibangun ulang di usia berapa pun.
Yang dilakukan Greg dan Nancy membuka pintu pada sebuah pemahaman yang lebih luas tentang manusia. Kita sering mengira bahwa makna hidup datang dari pencapaian besar, jabatan tinggi, atau tujuan yang heroik.
Padahal, yang paling kita butuhkan justru jauh lebih mendasar: perasaan bahwa kita berarti. Bahwa kehadiran kita diperhitungkan. Bahwa hidup kita meninggalkan jejak dalam kehidupan orang lain.
Inilah yang disebut Jennifer Breheny Wallace sebagai mattering, perasaan bahwa kita dihargai dan sekaligus memiliki nilai untuk diberikan. Ketika seseorang merasa mattering, ia tahu bahwa dirinya bukan sekadar pengisi ruang, melainkan bagian penting dari jaringan hubungan manusia.
Sebaliknya, ketika rasa ini hilang, hidup bisa terasa hampa meski tampak “baik-baik saja” dari luar.
Banyak orang mengalami hal ini tanpa mampu memberi nama pada perasaannya. Seorang pengasuh setiap hari mengurus orang lain. Namun mereka merasa dirinya tak pernah menjadi prioritas.
Seorang pekerja yang rajin dan kompeten tetapi merasa tak terlihat. Seorang pensiunan yang tiba-tiba kehilangan identitas karena tak lagi dibutuhkan. Atau seseorang yang berada di tengah keramaian, tetapi merasa sendirian.
Mereka mempunyaui pertanyaan yang sama: Apakah saya ini penting bagi siapa pun?
Jennifer Breheny Wallace, melalui buku Mattering, menunjukkan bahwa krisis kesehatan mental dan sosial yang kita hadapi hari ini bukan semata-mata soal stres, teknologi, atau politik. Di balik itu, ada krisis yang lebih sunyi dan lebih dalam: semakin banyak orang merasa tidak berarti.
Setelah merawat ibunya yang sakit parah hingga meninggal, Julie Plaut Mahoney merasa hampa. Ia kehilangan peran sebagai pengasuh yang membuatnya merasa dibutuhkan ("weightlessness" atau kehampaan beban).
Alih-alih tenggelam dalam kesedihan, ia mengubah barang-barang peninggalan ibunya menjadi misi baru. Dia mendirikan perkumpulan nirlaba bernama Welcome Home, yang menyediakan paket perabot rumah tangga bagi orang-orang yang baru keluar dari penampungan tunawisma atau korban KDRT.
Dengan kembali menjadi seseorang yang diandalkan orang lain, Julie memulihkan rasa berharganya melalui "good weight."
Kita hidup di dunia yang sibuk menuntut performa, tetapi lupa memberi pengakuan. Kita menghargai hasil, tetapi sering mengabaikan manusia di baliknya.
Lorenzo Lewis tahu betul tentang itu. Apalagi, dari berbagai literatur yang dia baca, pria kulit hitam jarang mencari bantuan mental.
Lorenzo melatih tukang cukur untuk menjadi pendengar aktif dan pendeteksi awal depresi. Melalui "The Confess Project", kursi tukang cukur berubah menjadi ruang aman bagi pria untuk curhat dan merasa didengar tanpa penghakiman, menyelamatkan banyak nyawa dari bunuh diri
Greg, Nancy, Julie, Lorenzo dan bahkan banyak orang lain, membuat mattering bukan sesuatu yang abstrak atau mewah. Ia hadir dalam hal-hal sederhana: memberi kabar lanjutan, mengucapkan terima kasih dengan tulus, meluangkan waktu untuk mendengarkan, atau membuat seseorang merasa dibutuhkan tanpa dieksploitasi.
Tindakan-tindakan kecil, ketika dilakukan secara konsisten, mampu mengubah hidup seseorang. Itu akan menjauhkan beberapa, belasan, bahkan ribuan dari depresi.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar